Surabaya (19/7). Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga DPD LDII Kota Surabaya menggelar Seminar Parenting Skill pada Minggu (19/7) di Gedung Serba Guna Sabilurrosyidin, Surabaya. Kegiatan yang mengusung tema “Meneladani Pola Makan Rasulullah Guna Membangun Generasi Sehat, Cerdas dan Berakhlakul Karimah” ini menghadirkan edukasi mengenai pentingnya penerapan gizi seimbang sejak dini.
Dalam seminar yang dihadiri 300-an perempuan utusan PC dan PAC LDII se-Surabaya itu, Dosen Prodi D IV Fisioterapi Universitas Airlangga (Unair), Sofiatun, mengajak masyarakat menerapkan pedoman gizi seimbang melalui konsep Isi Piringku sebagai pengganti konsep lama 4 Sehat 5 Sempurna. Menurutnya, pola makan seimbang menjadi kunci menjaga kesehatan sekaligus mencegah berbagai penyakit kronis.
Di hadapan para orang tua yang menjadi peserta, Sofiatun menjelaskan bahwa konsep Isi Piringku tidak hanya menekankan kelengkapan jenis makanan, tetapi juga mengatur proporsi konsumsi sesuai kebutuhan tubuh.

“Kalau dulu fokusnya pokoknya ada nasi, lauk, sayur, buah, dan susu. Sekarang melalui Isi Piringku kebutuhan karbohidrat, protein, sayur, dan buah sudah terukur. Susu juga bukan satu-satunya sumber gizi karena bisa digantikan dengan telur, ikan, maupun sumber protein lainnya,” kata Sofiatun.
Ia mengatakan, perubahan pola konsumsi masyarakat yang semakin banyak mengonsumsi makanan cepat saji membuat penerapan gizi seimbang menjadi semakin penting. “Makanan harus mengandung semuanya sesuai kebutuhan. Tujuannya agar tubuh tetap ideal dan seimbang. Gizi kurang itu bukan hanya kekurangan berat badan, tetapi kelebihan berat badan juga termasuk masalah gizi,” ujarnya.
Sofiatun juga mengingatkan masyarakat untuk membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak sesuai anjuran kesehatan. Ia menyebutkan konsumsi gula maksimal empat sendok makan per hari, garam satu sendok teh per hari, dan lemak atau minyak lima sendok makan per hari, termasuk yang terkandung dalam makanan dan minuman olahan.
“Kalau membeli minuman kemasan, biasakan membaca label kandungan gulanya. Sering kali satu botol minuman sudah mengandung gula hingga sekitar 40 gram,” katanya.
Selain mengatur pola makan, pedoman Isi Piringku juga menekankan pentingnya aktivitas fisik dan perilaku hidup bersih. Menurut Sofiatun, olahraga teratur diperlukan untuk menyeimbangkan energi yang masuk ke dalam tubuh.
Ia juga meluruskan anggapan keliru mengenai diet. Akibatnya banyak yang berniat diet malah jatuh sakit. “Banyak orang menganggap diet itu tidak makan. Itu salah. Diet adalah mengatur pola makan, bukan berhenti makan. Tetap makan tiga kali sehari dengan porsi yang sesuai dan bijak memilih makanan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Sofiatun menjelaskan bahwa pemenuhan gizi seimbang sebaiknya dimulai sejak masa kehamilan hingga usia lanjut. Ia menekankan pentingnya periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni sejak janin dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun, karena merupakan fase pembentukan dan pematangan fungsi organ tubuh.
“Dengan nutrisi yang baik sejak awal kehidupan, daya tahan tubuh meningkat, berat badan lebih ideal, konsensation lebih baik, serta risiko penyakit kronis di kemudian hari dapat ditekan,” katanya.
Sementara itu, praktisi hipnoterapis, Karlin menyoroti pentingnya pola asuh dalam membentuk kebiasaan makan sehat dan keseimbangan emosi anak. Ia mengatakan, orang tua memiliki peran besar dalam membangun pengalaman makan yang positif sejak usia dini.
“Anak tidak lahir sebagai picky eater. Cara orang tua mengarahkan, memberi contoh, dan membangun pengalaman makan anak sangat menentukan kebiasaan makannya di masa depan,” ujar Karlin.

Karlin mengingatkan orang tua agar menghindari kebiasaan mengejar anak saat makan atau membiasakan anak makan sambil menonton gawai karena dapat membentuk perilaku makan yang kurang sehat.
“Kalau anak hanya mau makan sambil menonton YouTube atau bermain HP, itu perilaku yang sebaiknya dihindari. Anak juga perlu belajar mengenali rasa lapar dan kenyang sejak dini,” katanya.
Menurut Karlin, konsep food parenting menjadi pendekatan yang penting untuk diterapkan keluarga. Melalui pendekatan tersebut, orang tua dapat membangun kesadaran anak terhadap makanan yang dikonsumsi sekaligus menanamkan kebiasaan makan sehat sejak masa golden age.
“Sebanyak 90 persen perkembangan otak terjadi sebelum usia lima tahun. Karena itu, kebiasaan makan sehat perlu dibentuk sejak dini agar menjadi bekal bagi tumbuh kembang anak,” ujarnya. (wid)













