Tim Rukyatul Hilal DPD Kota Surabaya melakukan pengamatan hilal 1 Rabiulawal 1448 H di Kaza City Mall lantai 5, Kamis (13/8/2026). Pengamatan berlangsung mulai pukul 17.15 hingga 17.50 WIB. Meski kondisi awal cukup cerah, hilal belum dapat terlihat dengan jelas karena menjelang matahari terbenam, langit tertutup kabut dan awan tebal.
Tim Rukyatul Hilal DPD Kota Surabaya yang terdiri dari M. Syaifudin, Bustanul Arifin, dan Faishal Tsaqib mempersiapkan pengamatan sesuai prosedur yang telah ditetapkan. Sejumlah peralatan digunakan untuk membantu proses pengamatan, termasuk teropong standar yang dapat digunakan untuk mengetahui posisi bulan dan matahari. “Pelaksanaan rukyatul hilal dilakukan sesuai SOP, dengan persiapan dan pemasangan alat teropong standar yang bisa melihat azimut Bulan dan Matahari,” ujar Bustanul Arifin.
Kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang cukup berpengaruh terhadap proses pengamatan. Pada awal kegiatan, langit masih dalam kondisi terang dan memungkinkan tim untuk melakukan persiapan pengamatan. Namun, kondisi tersebut berubah ketika mendekati waktu Matahari terbenam. “Cuaca saat awal terang, namun saat menjelang terbenam Matahari, tertutup kabut atau awan tebal,” jelas Bustanul.
Berdasarkan perhitungan astronomis, posisi bulan pada pukul 17.44 WIB berada pada azimut 283,55° dengan ketinggian atau altitude 11,74°. Posisi tersebut secara perhitungan masih memberikan peluang bagi hilal untuk diamati. “Secara perhitungan masih memungkinkan untuk terlihat hilal,” kata Bustanul.
Kondisi tersebut sempat membuat tim memiliki optimisme untuk dapat melihat hilal secara langsung. Namun, visibilitas yang semakin terbatas akibat kabut dan awan tebal membuat pengamatan dari lokasi Surabaya tidak mendapatkan hasil yang diharapkan.
Selain faktor cuaca, pelaksanaan rukyatul hilal kali ini juga menghadapi tantangan terkait posisi hilal jika dibandingkan dengan kriteria imkan rukyat MABIMS. Bustanul menjelaskan bahwa terdapat selisih pada ketinggian hilal dibandingkan dengan ketentuan tersebut. “Ketinggian derajat kurang 1 derajat dari ketentuan MABIMS sebesar 3 derajat, dengan sudut elongasi minimal 6,4 derajat,” jelasnya.
Menurut Bustanul, rukyatul hilal memiliki arti penting karena berkaitan dengan penentuan jumlah hari dalam satu bulan Hijriah. “Sangat penting untuk menghitung jumlah hari dalam bulan Islam,” tuturnya.
Lebih lanjut, penentuan awal bulan Hijriah menjadi sangat penting ketika berkaitan dengan bulan-bulan yang memiliki keterkaitan langsung dengan pelaksanaan ibadah dan hari besar Islam. “Bulan Islam yang krusial adalah bulan Ramadan, penentuan 1 Ramadan, 1 Syawal, dan Hari Raya Iduladha,” tambah Bustanul.
Pelaksanaan rukyatul hilal 1 Rabiulawal 1448 H ini dilakukan secara serentak oleh tim hilal DPD kota/kabupaten dan DPW di berbagai wilayah Indonesia. Bagi Tim Rukyatul Hilal DPD Kota Surabaya, hasil pengamatan kali ini menjadi bagian dari pengalaman dan evaluasi untuk pelaksanaan rukyatul hilal pada bulan berikutnya.
Bustanul berharap kondisi pengamatan pada kesempatan berikutnya dapat lebih mendukung sehingga tim dapat memperoleh hasil pengamatan yang lebih optimal. “Harapan saya, semoga bisa melihat hilal untuk bulan berikutnya,” pungkasnya. (ysy)













