Pekan ASI sedunia tiap tanggal 1-7 Agustus. Tahun ini mengangkat tema “Menyusui untuk Awal Kehidupan yang Berkelanjutan” (Breastfeeding for a Sustainable Start in Life).
Menurut situs Kemenkes RI, di Indonesia sendiri, Pekan ASI Sedunia mengusung tema ‘Bekerja Bersama Untuk Keberlangsungan Pemberian ASI’, yang menekankan dukungan berbagai pihak untuk mencapai kesuksesan menyusui.
Peringatan ini juga menjadi pengingat bahwa keberhasilan pemberian ASI bukan hanya tanggung jawab ibu, tetapi membutuhkan dukungan keluarga, terutama ayah, serta lingkungan.
Menyusui bukan sekadar proses memberikan makanan terbaik bagi bayi, tetapi juga membangun ikatan emosional yang kuat antara ibu dan anak. Sentuhan kulit, tatapan mata, serta pelukan hangat saat menyusui memberikan rasa aman, nyaman, dan kasih sayang yang sangat dibutuhkan bayi sejak awal kehidupannya.
Kedekatan ini berperan penting dalam pembentukan rasa percaya diri, kestabilan emosi, dan perkembangan psikologis anak di masa depan. Bagi ibu, menyusui juga menjadi momen berharga untuk mempererat hubungan batin dengan buah hati.
Islam telah mengatur bagaimana seorang ibu bisa menyusui, sebagaimana disebutkan dalam surat Al Baqarah 233, “Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna”. Anak diberi hak untuk mendapatkan nutrisi terbaik pada awal kehidupannya.
Banyak literatur menunjukkan bahwa ASI memiliki beragam kandungan gizi. Seperti diulas dalam jurnal penelitian Kim, S. Y., & Yi, D. Y. (2020) dengan judul: Components of human breast milk: from macronutrient to microbiome and microRNA. Jurnal tersebut menjelaskan pembagian proporsi zat gizi ASI matur (air, karbohidrat ~7%, lemak ~3,8%, protein ~1%) serta komponen mikrobioma dan faktor pertumbuhan.
Kemenkes RI menjelaskan, ASI menjadi sangat penting bagi perkaembangan bayi, khususnya pada 6 bulan pertama pasca kelahiran. ASI memiliki semua kandungan zat penting yang dibutuhkan oleh sang bayi seperti; DHA, AA, Omega 6, laktosa, taurin, protein, laktobasius, vitamin A, kolostrum, lemak, zat besi, laktoferin and lisozim yang semuanya dalam takaran dan komposisi yang pas untuk bayi. Oleh karenanya, ASI sangat penting dalam membentuk sistem imun pada bayi.
Manfaat lain ASI antara lain mengandung antibodi yang membantu melindungi bayi dari infeksi, diare, dan penyakit saluran pernapasan, mendukung perkembangan otak dan sistem saraf sehingga membantu meningkatkan kualitas kecerdasan anak. ASI juga mudah dicerna oleh sistem pencernaan bayi, mengurangi risiko alergi, obesitas, dan berbagai penyakit kronis di kemudian hari.
Mengingat begitu banyak manfaat ASI, perlu diingat faktor-faktor yang mendukung kelimpahan produksi ASI itu sendiri. Suami memiliki peran yang sangat besar dalam memberikan dukungan moral maupun praktis, seperti memberikan semangat dan apresiasi kepada ibu selama masa menyusui, membantu pekerjaan rumah agar ibu memiliki waktu istirahat yang cukup, menemani ibu saat menghadapi tantangan menyusui.
Suami juga perlu memastikan kebutuhan gizi ibu terpenuhi serta menciptakan suasana keluarga yang tenang dan nyaman sehingga produksi ASI tetap optimal. Dukungan keluarga yang baik akan meningkatkan kepercayaan diri ibu dalam menyusui dan memperbesar peluang keberhasilan ASI eksklusif.
Satu hal yang perlu diingat, dukungan keluarga tetap dibutuhkan jika seorang ibu tidak bisa memberikan ASI karena alasan medis atau alasan tertentu. Mereka tetaplah ibu yang hebat yang mengupayakan nutrisi terbaik bagi bayinya, meski bukan dari payudaranya sendiri. (wid)













