SURABAYA — Suasana dalam rumah tangga sangat dipengaruhi oleh kondisi emosional seorang ibu. Pengelolaan emosi orang tua menjadi faktor kunci untuk mencegah terjadinya kekerasan fisik maupun verbal pada anak, sekaligus menciptakan lingkungan rumah yang aman dan harmonis.
Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Biro Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga (PPKK) DPW LDII Jawa Timur, Khomsa Murni Sovia Sahid, dalam Seminar Parenting bertajuk “Mendidik Anak dengan Cinta”. Seminar diselenggarakan oleh Wanita LDII PC Gunung Anyar bekerja sama dengan Pemkot Surabaya di Masjid Nurul Hikmah, Gunung Anyar, Surabaya, Minggu (27/9/2026). Dihadiri 400 peserta.
“Ibu itu adalah pusat emosi keluarga, jadi apa yang dirasakan ibu-ibu di rumah akan menular ke anggota keluarga yang lainnya,” ujar Sovia saat membuka seminar.
Oleh karena itu, Sovia mengimbau para peserta untuk mengenali kondisi diri dan mengelola stres terlebih dahulu sebelum memberikan respons kepada anak. Langkah ini penting agar kelelahan fisik maupun mental tidak terlampiaskan kepada buah hati.
Ia menambahkan, perilaku anak terutama balita perlu dipahami sebagai bagian dari proses belajar melalui eksplorasi. “Anak balita itu memang cara belajarnya lewat eksplorasi, jadi wajar jika suka membuat rumah berantakan jangan langsung dimarahi, tapi ajarkan merapikan kembali dengan sabar,” kata Sovia yang juga seorang psikolog.
Selain pencegahan kekerasan fisik, Sovia menekankan bahaya kekerasan verbal yang berisiko meninggalkan luka trauma jangka panjang. Pola komunikasi negatif kerap terjadi karena orang tua meniru cara pengasuhan masa laluanak. “Kata-kata seperti menyebut anak malas atau bodoh terkadang diucapkan tanpa sadar karena mengulang pola pengasuhan masa lalu, dan kita harus berani memutus rantai itu,” tegasnya.
Sikap responsif orang tua saat anak mengadu juga menjadi modal utama dalam memberikan perlindungan di dalam rumah. “Kalau anak melapor, ibu harus langsung tanggapi dengan lembut, “Kenapa, nak? Ada apa?” agar anak merasa rumah adalah tempat paling aman untuk berlindung,” lanjut Sovia.
Dalam pemaparannya, Sovia juga menyoroti pola pengasuhan berbasis ancaman dan hukuman yang dinilai tidak efektif karena hanya menghasilkan kedisiplinan sesaat. “Hukuman dan kekerasan hanya melahirkan ‘patuh semu’, di mana anak nurut saat ada orang tua saja, tapi hubungan emosional justru menjadi renggang,” jelasnya.
Di samping pola asuh, penggunaan gawai di era modern turut menjadi tantangan yang dapat mengikis interaksi keluarga. Menurut Sovia, kehadiran fisik dan emosional orang tua tidak boleh tergantikan oleh perangkat digital. “Pengasuhan terbaik itu adalah kehadiran fisik dan emosional bapak dan ibunya, jangan sampai kehadiran kita gantikan oleh gadget,” ucapnya.
Mengutip keteladanan Rasulullah SAW, ia mengingatkan pentingnya mendidik anak dengan kasih sayang dan pemberian apresiasi. “Muliakan anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka, salah satunya dengan tidak pelit memberikan pujian sederhana saat mereka berbuat kebaikan,” ujar Sovia.
Bagi orang tua yang merasa pernah melakukan kekeliruan dalam mendidik anak, Sovia menegaskan bahwa ruang perbaikan selalu terbuka. “Tidak ada kata terlambat, kita masih bisa memperbaiki pola asuh bahkan ketika anak sudah beranjak dewasa,” tuturnya.
Rangkaian kegiatan diakhiri dengan sesi refleksi diri untuk saling menguatkan antarpeserta. “Tidak ada ibu yang sempurna, semua ibu punya kekuatan masing-masing, dan mau berusaha menjadi ibu yang lebih baik itu sudah sangat cukup,” pungkas Sovia.
Dukungan atas terselenggaranya kegiatan ini turut disampaikan oleh Dewan Penasehat Wanita LDII PC Gunung Anyar, M. Ainur Rofiq. “Semoga para peserta yang hadir bisa menjadi ibu yang lebih baik lagi dan ilmu yang diperoleh hari ini dapat bermanfaat secara nyata dalam keluarga,” kata Ainur Rofiq saat menutup acara. (ysy)













