GRESIK – DPD LDII Kota Surabaya mengirimkan empat utusan untuk mengikuti Diklat Rukyatul Hilal ke-4 di Gresik, Minggu (11/10/2026). Langkah ini dilakukan sebagai regenerasi sekaligus membangun kemandirian di bidang ilmu falakiyah.
Pelatihan tersebut diselenggarakan oleh Lembaga Falakiyah DPW LDII Jawa Timur sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas pengamat hilal dan memperkuat pembinaan kader di daerah.
Keempat peserta tersebut terdiri atas dua pengurus DPD LDII Kota Surabaya, M. Syaifudin dan Bustanul Arifin, serta dua Pemuda LDII, Multazam dan Amir. Kegiatan berlangsung di Aula Pondok Pesantren Baitul Makmur, Laban, Gresik, mulai pukul 07.30 hingga 19.00 WIB.
Diklat ini menjadi sarana pembelajaran teori dan praktik rukyatul hilal, yakni pengamatan hilal untuk membantu menentukan awal bulan Hijriah, terutama Ramadan dan Syawal.
“Kegiatan tersebut juga bertujuan meningkatkan pemahaman peserta terhadap ilmu falakiyah serta kemampuan melaksanakan pengamatan sesuai tuntunan hadis Nabi Muhammad SAW.” ujar Busnatul.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mempelajari teknik rukyatul hilal, cara menemukan hilal, metode mata elang atau pengamatan menggunakan mata telanjang, serta teknik pengamatan secara bersama-sama. Peserta juga mendapatkan materi mengenai kriteria awal bulan Hijriah berdasarkan kesepakatan MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), yaitu tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.
Praktik pengamatan hilal dilaksanakan di rooftop RS Surya Medika, Menganti, mulai waktu Asar hingga pukul 18.00 WIB. Peserta mempraktikkan teknik pengamatan menggunakan teropong maupun metode mata telanjang untuk memahami secara langsung proses rukyatul hilal di lapangan.
Bustanul Arifin juga menjelaskan bahwa keikutsertaannya dalam diklat tersebut dilandasi pentingnya menyiapkan generasi penerus yang memahami ilmu falakiyah secara teori maupun praktik.
“Motivasi kami mengikuti kegiatan ini adalah untuk menyiapkan regenerasi pemuda LDII agar mampu mengikuti perkembangan ilmu falakiyah. Teori dan praktik pengamatan hilal perlu dipelajari secara benar sehingga ke depan pemuda LDII bisa lebih mandiri dan berkompeten, khususnya dalam memahami teknik rukyatul hilal serta cara menemukan hilal,” ungkap Bustanul.
Dalam praktik pengamatan yang berlangsung pukul 17.11–17.45 WIB, peserta belum berhasil melihat hilal karena kondisi langit tertutup kabut tebal. Padahal, pengamatan telah dilakukan menggunakan peralatan yang tersedia dan metode mata telanjang.
“Kondisi tersebut menjadi pengalaman bagi peserta bahwa keberhasilan rukyatul hilal tidak hanya bergantung pada penguasaan teknik, tetapi juga dipengaruhi kondisi cuaca dan visibilitas langit.” ungkap Bustanul.
Bustanul menegaskan, pelaksanaan teori dan praktik telah berjalan dengan baik, meskipun hasil pengamatan belum sesuai harapan.
“Secara teori dan praktik, pengamatan sudah dilaksanakan dengan baik dan benar. Namun, meskipun menggunakan teropong, hilal belum terlihat karena kondisi alam. Apalagi jika menggunakan metode mata elang atau mata telanjang,” jelasnya.
Menurut Bustanul, kompetensi rukyatul hilal perlu dibangun melalui latihan yang berkelanjutan, bukan hanya melalui pelatihan satu kali. Karena itu, ia berharap kegiatan pengamatan dapat dilaksanakan secara rutin setiap pergantian bulan Hijriah agar peserta semakin terampil dan berpengalaman.
“Harapannya, kegiatan ini terus dilaksanakan secara kontinu dan berkelanjutan setiap pergantian bulan Hijriah. Dengan begitu, pemuda LDII bisa lebih mandiri, memahami teknik pengamatan, dan memiliki kompetensi untuk melaksanakan rukyatul hilal secara benar,” tambahnya.
Ia juga berharap DPD LDII Kota Surabaya bersama DPW LDII Jawa Timur dapat memperkuat kemampuan pengamatan hilal secara mandiri sebagai bagian dari kontribusi dalam penentuan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah, dengan tetap mengikuti mekanisme penetapan yang berlaku.
Bustanul menyebutkan, di Jawa Timur terdapat 38 tim falakiyah di tingkat DPD. Keberadaan tim-tim tersebut diharapkan dapat memperluas kemampuan pengamatan hilal di berbagai daerah. DPW LDII Jawa Timur pun diharapkan mampu menjadi pelopor dan barometer pengembangan rukyatul hilal di tingkat nasional.
Melalui pembekalan teori dan praktik lapangan ini, keterlibatan pemuda LDII Kota Surabaya diharapkan mampu mencetak generasi ahli falakiyah yang kompeten, mandiri, serta siap berkontribusi dalam kegiatan rukyatul hilal secara berkelanjutan. (ysy)













